Ingatan SMP

Di milis Ikatan Alumni Fa ITB, Ika menulis memoar dari selasar farmasi. Ingatan saya kemudian melayang-layang pada masa lalu. Bagaimana pilihan sikap orang-orang pada satu masa bisa berdampak besar pada kehidupan mendatang. Bersyukurlah kalau pilihan itu baik, kalau berakibat buruk? Hmm..saya kemudian memilih untuk mengingat masa SMP.
SMP 14 Bandung, sekolah sempit yang sekarang bergaya arsitektur minimalis. Selama tiga tahun (1994-1997) saya sekelas dengan orang-orang yang sama, membentuk pertemanan yang sangat erat yang kemudian uzur dimakan waktu. Masa saya bisa membina hubungan baik dengan cewe-cewe dalam bentuk kelompok dan berkomitmen dengan pertemanan kami. Masa-masa awal pencarian jati diri, membuat kami rajin sekali mengeksplorasi kesenangan, dan tidak takut untuk menjadi norak. Otak kanan benar-benar berkembang. Lagipula belum sepenuhnya sadar tentang halal dan haram, dosa dan pahala, benar atau salah.
Secara tersirat pada masa peralihan anak-anak ke remaja itu otak bawah sadar teman-teman saya (baca: kami, lebih fair) lebih mementingkan physical thing. Menjadi cantik, dikenal teman satu sekolah dan gaul adalah sebuah obsesi tersembunyi. Anggaplah sebagai perwujudan eksistensi kami sebagai manusia remaja.
Gaul didefinisikan sempit sebagai berdandan dan berlaku sesuai mode terbaru. Coba inget-inget trend pada tahun-tahun itu!! Jam tangan G-shock or G-Baby, kaos Billabong dan OP, celana Alien workshop, sepatu Airwalk, tas Alpina, punya Rollerblade, makan di McD, hapal lagunya Boyzone dan Backstreet boys. Cape deeh. Hehehe..
Kami -cewe-cewe- juga senang membaca majalah Gadis, Kawanku dan Aneka (Saya dulu langganan Aneka karena banyak cerpennya). Betapa menjadi cantik dan terkenal ala model, penyanyi atau aktris itu sangat menggiurkan. Sampai ada saat-saat teman-teman saya punya cita-cita menjadi model. Ikut kursus modelling, beli sepatu high heels 10 cm, kaus putih dan rok mini. Walaupun akhirnya mereka cuma ikut beberapa pertemuan di sanggar modelling itu.
Obsesi untuk menjadi terkenal atau menjadi jajaran seleb sekolah ternyata dapat berakibat fatal di kemudian hari. Saat SMA, saya tiba-tiba dihubungi untuk datang ke rumah salah satu sahabat SMP saya. Karena dia depresi, kehilangan sementara memori SMAnya, dan harus menjalani perawatan medis oleh psikiater. Usut punya usut, dia masuk ekskul teater di sekolahnya. Ekskul SMA itu memang terkenal bagus di Bandung (tebak SMA mana?). Dengan bakat yang dia miliki, ternyata belum mampu membawa dia sebagai pemeran utama dan menjadi terkenal di sekolah. Mentalnya dulu belum kuat untuk mengakui kalau pemeran utama memang harus cantik. Cantik didefinisikan secara umum sebagai putih, tinggi, langsing, good looking. Sedih ya, teman saya itu tidak siap untuk tetap menjadi bukan siapa-siapa. Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian dia sembuh.
Kalau untuk teman cowo, obsesi utama mereka adalah musik. Beberapa orang bangga sekali kalau jadi anak punk, memainkan musik grindcore atau hardcore. Setiap hari minggu, mereka datang ke GOR Saparua, untuk moshing. Musik memang bisa membawa perubahan, entah baik atau jelek. Independensi dan kebebasan total yang diusung melalui melodi-melodi itu rupanya berbekas. Setelah beberapa tahun tak bersua, seorang teman pencinta hard core berani memilih untuk hidup mengembara, bebas, tidak terikat aturan umum.
Dari sekian banyak teman SMP yang ngeband, ada yang berhasil loh. Bukan temen sekelas sih, itu loh Ariel dan Uki Peterpan. Mereka ngeband dari jaman SMP. Aura idola memang sudah melekat sejak SMP. Yeah, mereka memang cakep dari sejak SMP dan digilai cewe-cewe sesekolahan. Samar-samar, inget Uki dulu sering seangkot dan duduk di pojok (ugh, gak penting banget). Ini ada scan foto mereka waktu lagi pagelaran kelas 3 *blushing*. Jangan tanya kenapa saya punya fotonya.. hehehe. Gak ada yang menduga mereka akan sesukses dan seterkenal sekarang. Baik karena karya dan gosipnya.




Oya, lingkungan heterogen SMP membuat saya tahu beberapa sisi kelam seperti obat-obatan. Saya pernah lihat teman meminum pil koplo dan aroma alkohol menyengat waktu dia bicara. Ini loh bau alkohol. Waks, membuat mual dan ingin muntah. Dan, wajarlah seingat saya ada dua orang teman SMP saya yang meninggal karena OD. Dua-duanya kecengan temen sebangku saya. Duh... Naudzubillahimindzalik.
Selintas cerita baik SMP, saya mempunyai kebiasaan yang cukup baik masa SMP adalah senang membaca dan berkunjung ke perpustakaan (tidak rajin menabung :P). Sampai akhirnya punya 3 teman akrab yang rutin bertemu di perpustakaan sekolah. Sekarang, salah satunya sudah di Singapore, kerja di sana. Tahun lalu kami bertemu, banyak hal berubah dan berbeda setelah 10 tahun tak bertemu. Jujur saja, mostly different dalam hal ”keyakinan”. Tapi, sisa-sisa keingintahuan –alasan kenapa kami sering berkumpul di perpustakaan sekolah- masih ada dan bisa tetap membuat jaring pertemanan diantara kami berdua.
Si teman itu yang selalu membuat saya tersenyum kalau ingat kisahnya yang main sepeda BMX, jatuh, kepalanya terbentur, dan mengalami amnesia ringan. Dan sayalah orang yang pertama kali dia hubungi, karena nomor telepon saya dipajang di tembok kamarnya. Waktu menelepon, dia ingat saya sedikit, tapi dia lupa soal kejadian dia jatuh dari sepeda. Nice memory...
Begitulah, cerita teman-teman SMP saya kadang-kadang membuat decak kagum terus menerus tetapi kadang juga membuat harus mengurut dada. Manusia berubah, berkembang, tumbuh dewasa dan memilih jalan sesuai prinsip hidupnya.

Satu hal istimewa...
Satu waktu setelah selesai ulangan umum kelas 1 caturwulan III, saya memutuskan untuk memulai menelepon seorang cowo lain kelas. Awalnya diiringi tawa cekikikan temen segeng. Bulan-bulan berikutnya si cowo yang kerap menelepon saya, intensif setiap hari selama beberapa tahun. Tahun-tahun berikutnya ada perubahan ritme, tapi kami tetap keep in touch. Kami kemudian lulus, masuk SMA yang sama, lulus, kuliah di jalan Ganesha juga, lulus kuliah akhirnya jadi beda kota. Saya tidak menyesal untuk sedikit agresif pada saat SMP itu :D karena akhirnya saya mendapatkan seorang sahabat. Persahabatan terlama yang saya punyai dan masih keep in touch secara rutin sampai sekarang. Sudah sekitar tiga belas tahun saya bersahabat dengan bapak yang hari ini berulang tahun. Sudah 26 tahun Ferry Malvinas. Dengan Osna dan Bina di pelukan Ferry; It’s such a blissful year. Peluk cium Auntie Tika buat Sabrina Nazma Calya ;).
Doa-doa cukup dipanjatkan dari jauh aja ya.

Sedikit memoir tentang masa SMP... sekali-kali mengenang. (Intinya ucapan ultah :D)

Ya Rabb, Alhamdulillah atas semua nikmat-Mu. Apapun jalan yang harus kutempuh, semoga Engkau selalu mencintaiku sampai helaan nafas terakhir.


Comments

Doti said…
bittersweet memories banget yak??

* haduuh..beneran deh itu foto uki-nya...tuoloonngg..

Popular Posts