Pages

10/7/17

Berkata baik atau diam

Aku baru saja mendengar seorang ahli hipnoterapi berbicara trauma masa lalu dari seorang manusia. Dia memberikan contoh tentang kesakitan anak yang berawal dari larangan kasar ibunya atau di kisah lain berasal dari ketidaksukaan ibunya saat mengetahui dia hamil si anak. Sungguh menyedihkan bagaimana lisan berbuat.

Oh duhai lisan, tahukah engkau?
Makianmu menghancurkan sel synaps orang yang kau maki.
Stempel kasarmu menyedot energi positif orang yang kau beri cap.
Kata-kata negatifmu merasuk sukma lawan bicaramu, dan dia merasakan sakit.

Tahukah umpatanmu membuat runtuh dunianya, membuat dia terdiam dan tak tahu harus bercerita pada siapa. Tidak mungkin bercerita kepada keluarganya, atau temanmu tentang kata-katamu. Dia hanya ingin menangis dan berdepresi dan mengakhiri hidupnya.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Sumber: https://muslimah.or.id/5118-bicara-baik-atau-diam.html