Kadangkala...

Aku ingin berada di tanah lapang di ketinggian.
Memandang langit biru tanpa terhalang.
Aku akan memutar tubuhku, berrotasi searah jarum jam dan menonggakkan kepala vertikal, dengan ubun-ubun sebagai sumbunya.
Mungkin aku merasakan bagai terbang.
Kemudian aku akan tergolek kelelahan tertungkup di atas rumput dan mencium bau tanah sambil melihat gugusan bukit terbentang di kaki langit.

Aku ingin termangu, meletakkan dagu searah sulur-sulur jendela kayu.
Menutup rapat kelopak mata agar keempat panca indera tersisa lebih peka.
Mendengar desiran angin yang bergetar luwes di sela ranting bercabang.
Menusuknya wangi apel panggang di dapur tetangga, hangat dan kerenyahan pai apel seakan mulai lumer di ujung lidah.
Dan merasakan semburan serbuk sari ke kulit wajah mungkin akan meretas merah alergi musim semi.

Aku ingin bersandar hangat di kursi kayu taman bunga depan rumah kita, bersamamu.
Menutup rapat bibirku, agar suaramu saja yang terngiang-ngiang di telinga.
Menikmati setiap ekspresimu yang mengalir satu nada dengan cerita.
Kubalas dengan kerlingan, binar, senyum, mungkin dekapan, dan tak mengapa sesekali kubersuara kalau kau meminta.

Comments

Popular Posts