Pengamen kecil


Bocah kecil berwajah kuyu
Berdendang nyanyian pilu
Aku hanya bisa tersedu
Seolah menatap langit biru yang tertutup kelabu

Suatu
pagi di bulan Desember dengan rutinitas biasa, tergopoh-gopoh pergi dari rumah agar bisa mendapat tempat di angkot pink dan tiba sebelum jam delapan pagi. Hari dengan sedikit cahaya matahari serta kabut yang menyelubungi tanpa hawa dingin yang mengkerutkan pori-pori.
Dalam angkot, aku membaca buku "The Great Women", buku 442 halaman bersampul warna broken white sendu. Buku yang berkisah tentang wanita-wanita hebat sepanjang masa yang diceritakan dalam sejarah Islam, dikutip dari ayat-ayat suci Al-quran, hadits-hadits Rasul dan penjelasan-penjelasan para tabiin.
Sosok pertama, Sarah, istri pertama Bapak para Nabi, Nabi Ibrahim 'Alaihissalam. Sarah sedang berdoa menghadapi Raja Kafir yang hendak merenggut kesuciannya, tatkala bocah kecil itu naik ke angkot dan memulai bernyanyi. Fuiih, susah bener untuk inget lafadz doa itu. Aku pernah hafal tapi akhirnya melupakan. Astaghfirullah...ingatan yang dangkal.
Sayup-sayup nyanyiannya terdengar. Bukan Munajat Cintanya The Rock, bukan lagunya Ungu atau Kangen Band. Lagu mendayu tentang perjuangan hidupnya. Entahlah, bukan lagu yang trendy diantara para pengamen cilik. Aku tak memperdulikan lebih jauh karena telah terseret pada kisah selanjutnya tentang Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim.
Anak lelaki berbaju merah itu begitu lusuh, aku melihatnya dari sudut mataku. Gerak refleksku mengambil recehan untuk kuberikan pada tangan mungilnya di akhir nyanyiannya.
Hari ini kebetulan aku sedang ada receh dan tidak banyak pertimbangan. Kadangkala untuk memberi aku berpikir keras sendiri. Seorang dosen kimia di tingkat satu pernah memberi wacana untuk tidak memberi pada pengamen atau pengemis. Memberi berarti mengekalkan ketidakberdayaan mereka karena mereka dalam situasi nyaman untuk selalu diberi. Jika ingin memberi berilah kailnya jangan umpannya. Sampai tujuh tahun setelah itu, aku masih belum mampu memberi kailnya.
Pernah mengulum senyum ketika berpergian dengan seorang teman. Pengemis setiap perempatan mengenali dia dan mobilnya, karena dia konsisten untuk selalu memberi.
Aku lalu menertawakan diri sendiri, sudah saatnya untuk lebih spontan. Kalau aku tidak punya uang receh, atau jika tangan pengamen penuh dengan bekas siletan, aku tak usah memberi.
Nyanyiannya telah selesai tapi dia masih tetap diam. Uang recehan beberapa orang telah berpindah ke sakunya dan dia belum berpindah angkot. Aku tak perduli, masih tetap asyik dengan buku di pangkuan.

Tiba-tiba, kudengar umpatan.
”ANJING!!” Supir angkot itu berteriak keras. Aku menengadah ke arah depan, ada angkot pink lain yang mendahului. Semua orang menjadi tegang.
Setiap hari naik angkot, aku mengerti persaingan untuk berebut penumpang. Sedari tadi, supir angkot itu memang terus mengeluh. Mengungkapkan kebencian terhadap pengendara motor. Mereka menganggap kredit motor murah menyebabkan pendapatan mereka turun drastis. Aku tak menyangka hari ini dia merusak hening di pagi hari, saat suhu masih terasa sejuk sampai ke jiwa.

Tak hanya itu, supir angkot itu kemudian menyalurkan amarahnya ke bocah kecil yang masih ada di pintu angkot.

”JANG, ULAH NGAHALANGAN PANTO!!!” Dengan nada super tinggi dan keras. Aku menghela nafas. Sekarang sudah sampai Maryam, Ibunda Isa Al Masih.
Supir itu sebenarnya pendiam, aku kenal wajahnya. Seingatku, dia biasanya tak pernah menggerutu atau ribut meminta ongkos tambahan pada penumpang. Walaupun, dahinya memang selalu merenggut. Apakah ada alasan yang cukup kenapa dia begitu marah?
Aku masih membaca.

Saat itu lebih banyak orang yang turun naik, bocah berusia sekitar 7 tahun itu ikut turun dan naik. Dia masih keukeuh untuk tetap duduk di pintu walaupun satu hardikan telah didapatnya.

Sesekali aku melirik ke arahnya. Aku hanya bisa melihat rambutnya yang lurus. Dia duduk di pintu masuk.

Kemudian, hardikan kedua dengan nada yang sama dan kata-kata yang bertambah panjang.
Kali ini dia sigap. Kulihat bocah itu berusaha naik dan turun dengan cepat.
Penumpang lain masih bermimik sama, tak ceria.

Hardikan ketiga.

Ah, supir itu telah menyakitiku juga. Setetes air mata di kedua mata turun. Entah karena membaca ketegaran Aisiah, istri Firaun, ketidakberdayaanku untuk bisa menghentikan tekanan terhadap anak itu atau hanya perasaan sensitifku terhadap sebuah teriakan.
Dia diam, dan aku tak bisa melihat wajahnya. Aku tak tahu apakah dia berkaca-kaca atau tidak. Aku memalingkan muka dan menghapus tetesan air mataku. Aku bisa menangis tersedu jika dibentak seperti itu. Aku ingin tahu apakah dia tidak terluka? Aku ingin mengajaknya turun dan berbincang ringan denganku. Apa yang bisa kulakukan agar dia tak terluka.

Angkot menjadi begitu sunyi. Aku menutup buku. Tak lama, supir angkot akhirnya bertanya dengan nada datar, dia hendak ikut sampai mana?

Sampai Gasibu katanya.
Ah, mungkin dia telah terbiasa dibentak, direndahkan atau dihina. Suaranya terdengar tegar. Dia tak perduli dengan teriakan asal bisa sampai tanpa mengeluarkan uang.

Tak lama, aku turun untuk berganti angkot. Aku bahkan lupa untuk melihat wajahnya saat turun. Lupa akan niatku untuk menghiburnya. Kekhawatiran bakal telat yang malah menguasaiku.

Aku tetap melewati Gasibu dengan angkot yang berbeda. Memang kulihat akan ada keramaian di sana. Dia punya orang tuakah? Mau apa di sana? Mungkin anak itu akan menyanyi atau meminta-minta atau bertemu ibunya? Apakah sebuah teriakan akan menyebabkan dia trauma?
Entahlah, hanya gambaran bagian belakang kepalanya masih tergambar di ingatanku.

Comments

Popular Posts