Empati

Di penghujung minggu, kecil kemungkinan untuk berbincang lagi denganmu. Kita memang jarang bertemu kan? Sebulan tak lebih dari hitungan jari. Aku bahkan kehilangan nomor hp-mu, terhapus bersama terhapusnya sistem komputerku. Ah, teman macam apa aku ini. Tapi, aku tak sanggup menunda waktu hingga awal pekan untuk terpaku, sementara kau ingin ditelan bumi.

Ada suatu kala kita terpukau, pada suatu keajaiban hidup bernama cinta.

Tentang sorot dan getar tak terencana yang sama mulai dari detik pertemuan itu.
Tentang kerinduan terpendam, mengalir, mengiringi waktu semenjak detik itu.
Tentang hari-hari sunyi yang dilewatkan berdua karena hanya perlu diam untuk mengerti semua.
Tentang bulir air mata, bersitan ingatan, bisikan kebimbangan satu orang yang berpendar menumbuhkan asmara di hati yang lain.
Tentang tubuh yang merasa kau adalah aku dan aku adalah kau, laksana rusuknya Ibu Hawa dan Bapak Adam.
Tentang inspirasi tiada henti dari bait-bait puisi merdu di diary.

Jangan menyerah teman. Aku masih ingin mendengar cerita episode dua, tiga dan seterusnya. Aku masih ingin terpana, tergetar dan terharu mendengar kedalaman cintamu.
Kita menyimpan harapan pada-Nya. Tariklah kata-kata ketaksanggupanmu.

Jika aku berhak memberi saran, segera jemputlah taqdirmu.
Jika cinta layak diperjuangkan, tentu Dia takkan membuatmu diam.
Jika akhirnya kau hanya diam, cinta akhirnya bukan apa-apa.
Atau pada suatu masa di masa depan, masih ada jalan yang diridhai-Nya.

Pada masa penentuan,
Saat pikiran terasa hilang dari raga
Tatkala prasangka dunia sekeliling menahan maksud kita
Lepaskanlah semua cinta dan benci dari hatimu dan berpasrah pada-Nya.

Aku tak perlu menasehati banyak, kau lebih mengerti dari aku kan??
Masih banyak waktu untuk tetap membisikkan doa-doa di temaram malam dan mendungnya siang. Sampai pada satu titik, itulah jalan pilihanmu.

Menanti
Kepingan hati
Mencari
Patahan tulang rusuk
Menunggu
Jalan taqdir yang seiring

(my favourite poem)

Comments

Popular Posts