12/26/2007 03:45:00 PM


Aku selalu merasa menjadi anak kecil
Hingga…
Menyentuh kerut-kerut saat aku membelai wajahmu
Mendengar beratnya nafas asmamu saat aku bersandar di punggungmu
Terdiam saat kau mengerang karena gas
lambung berekskresi berlebihan

Kalian boleh menua tapi tetaplah bersamaku
Tertawa bahagia di pelaminanku,
menggendong cucu-cucumu,
berpose kembali di wisuda-wisuda anak turunmu
dan tetaplah berkisah untukku..

Tak pernah ada kebiasaan merayakan ulang tahun atau moment special dalam keluarga kami. Seperti dua tahun lalu, aku sendiri yang membuat pengumuman di depan keluargaku, “Ibu, hari ini Tika ulang tahun.” (sambil memamerkan big grinning :D)
Setelah itu baru Ibu menjampi-jampiku. Rasanya, hanya pada ulang tahun ke tujuh-ku ada pesta dengan mengundang teman-teman. Ulang tahun Rama, adikku, bahkan belum pernah dirayakan sama sekali. Walaupun tahun ini, Ibu iseng membuat nasi kuning buat Rama.
Dan hari ini, 26 Desember 2007, sudah 25 tahun kebersamaan Ibu dan Bapak sebagai suami istri. Tak ada rencana apapun, tak ada berlian, tak ada makan malam di restoran mahal, tak ada hebohnya perayaan. Tapi, aku ingin memaknai hari ini dengan berbeda karena kata orang ini perkawinan perak. Cuku
p dengan TCC buatan the Uceu, bukan brownies atau cake coklat bantet buatanku, beserta sebuah surat dariku untuk Ibu dan bapak.
Aku bisa menulis untuk dibaca banyak orang di blog, tapi menulis hal romantis dan mellow untuk dibaca ibu dan bapak adalah hal yang sangaaat sulit.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alhamdulillah...

---cut---

Aku kadang-kadang memang sok tahu, keras kepala dan merasa lebih berpengalaman tentang suatu hal. Tapi, percayalah kalau aku belajar banyak dari kisah kalian berdua. Sepanjang ingatanku, aku telah menyaksikan begitu banyak masalah dan cobaan dalam hidup Ibu dan Bapak. Dari semua itu aku belajar tentang dua sisi dalam setiap persoalan. Kegembiraan di antara cobaan yang mendera dan elegi dalam cerita bahagia. Aku menikmati waktu-waktu Ibu Bapak bercerita sehabis sholat berjamaah atau saat duduk di ruang tengah tentang semua kenangan, masa kecil, dan semua masa lalu. Dari semua itu aku belajar cara menyikapi hidup.

----cut----

Semoga aku dan rama jadi anak soleh sehingga membahagiakan, mengalirkan pahala dan mengangkat derajat Ibu dan Bapak di surga.

Amiiin.

----------------------------------------------------------------
Defa and teh Uceu, thanks for realizing my scenario...;)

12/23/2007 07:46:00 PM

Aku ingin berada di tanah lapang di ketinggian.
Memandang langit biru tanpa terhalang.
Aku akan memutar tubuhku, berrotasi searah jarum jam dan menonggakkan kepala vertikal, dengan ubun-ubun sebagai sumbunya.
Mungkin aku merasakan bagai terbang.
Kemudian aku akan tergolek kelelahan tertungkup di atas rumput dan mencium bau tanah sambil melihat gugusan bukit terbentang di kaki langit.

Aku ingin termangu, meletakkan dagu searah sulur-sulur jendela kayu.
Menutup rapat kelopak mata agar keempat panca indera tersisa lebih peka.
Mendengar desiran angin yang bergetar luwes di sela ranting bercabang.
Menusuknya wangi apel panggang di dapur tetangga, hangat dan kerenyahan pai apel seakan mulai lumer di ujung lidah.
Dan merasakan semburan serbuk sari ke kulit wajah mungkin akan meretas merah alergi musim semi.

Aku ingin bersandar hangat di kursi kayu taman bunga depan rumah kita, bersamamu.
Menutup rapat bibirku, agar suaramu saja yang terngiang-ngiang di telinga.
Menikmati setiap ekspresimu yang mengalir satu nada dengan cerita.
Kubalas dengan kerlingan, binar, senyum, mungkin dekapan, dan tak mengapa sesekali kubersuara kalau kau meminta.

12/13/2007 06:32:00 PM



Bocah kecil berwajah kuyu
Berdendang nyanyian pilu
Aku hanya bisa tersedu
Seolah menatap langit biru yang tertutup kelabu

Suatu pagi di bulan Desember dengan rutinitas biasa, tergopoh-gopoh pergi dari rumah agar bisa mendapat tempat di angkot pink dan tiba sebelum jam delapan pagi. Hari dengan sedikit cahaya matahari serta kabut yang menyelubungi tanpa hawa dingin yang mengkerutkan pori-pori.
Dalam angkot, aku membaca buku "The Great Women", buku 442 halaman bersampul warna broken white sendu. Buku yang berkisah tentang wanita-wanita hebat sepanjang masa yang diceritakan dalam sejarah Islam, dikutip dari ayat-ayat suci Al-quran, hadits-hadits Rasul dan penjelasan-penjelasan para tabiin.
Sosok pertama, Sarah, istri pertama Bapak para Nabi, Nabi Ibrahim 'Alaihissalam. Sarah sedang berdoa menghadapi Raja Kafir yang hendak merenggut kesuciannya, tatkala bocah kecil itu naik ke angkot dan memulai bernyanyi. Fuiih, susah bener untuk inget lafadz doa itu. Aku pernah hafal tapi akhirnya melupakan. Astaghfirullah...ingatan yang dangkal.
Sayup-sayup nyanyiannya terdengar. Bukan Munajat Cintanya The Rock, bukan lagunya Ungu atau Kangen Band. Lagu mendayu tentang perjuangan hidupnya. Entahlah, bukan lagu yang trendy diantara para pengamen cilik. Aku tak memperdulikan lebih jauh karena telah terseret pada kisah selanjutnya tentang Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim.
Anak lelaki berbaju merah itu begitu lusuh, aku melihatnya dari sudut mataku. Gerak refleksku mengambil recehan untuk kuberikan pada tangan mungilnya di akhir nyanyiannya.
Hari ini kebetulan aku sedang ada receh dan tidak banyak pertimbangan. Kadangkala untuk memberi aku berpikir keras sendiri. Seorang dosen kimia di tingkat satu pernah memberi wacana untuk tidak memberi pada pengamen atau pengemis. Memberi berarti mengekalkan ketidakberdayaan mereka karena mereka dalam situasi nyaman untuk selalu diberi. Jika ingin memberi berilah kailnya jangan umpannya. Sampai tujuh tahun setelah itu, aku masih belum mampu memberi kailnya.
Pernah mengulum senyum ketika berpergian dengan seorang teman. Pengemis setiap perempatan mengenali dia dan mobilnya, karena dia konsisten untuk selalu memberi.
Aku lalu menertawakan diri sendiri, sudah saatnya untuk lebih spontan. Kalau aku tidak punya uang receh, atau jika tangan pengamen penuh dengan bekas siletan, aku tak usah memberi.
Nyanyiannya telah selesai tapi dia masih tetap diam. Uang recehan beberapa orang telah berpindah ke sakunya dan dia belum berpindah angkot. Aku tak perduli, masih tetap asyik dengan buku di pangkuan.

Tiba-tiba, kudengar umpatan.
”ANJING!!” Supir angkot itu berteriak keras. Aku menengadah ke arah depan, ada angkot pink lain yang mendahului. Semua orang menjadi tegang.
Setiap hari naik angkot, aku mengerti persaingan untuk berebut penumpang. Sedari tadi, supir angkot itu memang terus mengeluh. Mengungkapkan kebencian terhadap pengendara motor. Mereka menganggap kredit motor murah menyebabkan pendapatan mereka turun drastis. Aku tak menyangka hari ini dia merusak hening di pagi hari, saat suhu masih terasa sejuk sampai ke jiwa.
Tak hanya itu, supir angkot itu kemudian menyalurkan amarahnya ke bocah kecil yang masih ada di pintu angkot.
”JANG, ULAH NGAHALANGAN PANTO!!!”
Dengan nada super tinggi dan keras. Aku menghela nafas. Sekarang sudah sampai Maryam, Ibunda Isa Al Masih.

Supir itu sebenarnya pendiam, aku kenal wajahnya. Seingatku, dia biasanya tak pernah menggerutu atau ribut meminta ongkos tambahan pada penumpang. Walaupun, dahinya memang selalu merenggut. Apakah ada alasan yang cukup kenapa dia begitu marah?
Aku masih membaca.
Saat itu lebih banyak orang yang turun naik, bocah berusia sekitar 7 tahun itu ikut turun dan naik. Dia masih keukeuh untuk tetap duduk di pintu walaupun satu hardikan telah didapatnya.

Sesekali aku melirik ke arahnya. Aku hanya bisa melihat rambutnya yang lurus kemerahan. Dia duduk di pintu masuk.
Kemudian, hardikan kedua dengan nada yang sama dan kata-kata yang bertambah panjang.
Kali ini dia sigap. Kulihat bocah itu berusaha naik dan turun dengan cepat.
Penumpang lain masih bermimik sama, tak ceria.
Hardikan ketiga.

Ah, supir itu telah menyakitiku juga. Setetes air mata di kedua mata turun. Entah karena membaca ketegaran Aisiah, istri Firaun, ketidakberdayaanku untuk bisa menghentikan tekanan terhadap anak itu atau hanya perasaan sensitifku terhadap sebuah teriakan.
Dia diam, dan aku tak bisa melihat wajahnya. Aku tak tahu apakah dia berkaca-kaca atau tidak. Aku memalingkan muka dan menghapus tetesan air mataku. Aku bisa menangis tersedu jika dibentak seperti itu. Aku ingin tahu apakah dia tidak terluka? Aku ingin mengajaknya turun dan berbincang ringan denganku. Apa yang bisa kulakukan agar dia tak terluka.
Angkot menjadi begitu sunyi. Aku menutup buku. Tak lama, supir angkot akhirnya bertanya dengan nada datar, dia hendak ikut sampai mana?
Sampai Gasibu katanya.
Ah, mungkin dia telah terbiasa dibentak, direndahkan atau dihina. Suaranya terdengar tegar. Dia tak perduli dengan teriakan asal bisa sampai tanpa mengeluarkan uang.

Tak lama, aku turun untuk berganti angkot. Aku bahkan lupa untuk melihat wajahnya saat turun. Lupa akan niatku untuk menghiburnya. Kekhawatiran bakal telat yang malah menguasaiku.
Aku tetap melewati Gasibu dengan angkot yang berbeda. Memang kulihat akan ada keramaian di sana. Dia punya orang tuakah? Mau apa di sana? Mungkin anak itu akan menyanyi atau meminta-minta atau bertemu ibunya? Apakah sebuah teriakan akan menyebabkan dia trauma?
Entahlah, hanya gambaran bagian belakang kepalanya masih tergambar di ingatanku.

(Keterangan gambar: Itu bukan pengamen kecil pagi itu. Itu foto pengamen di angkot Cicaheum Ciroyom yang diambil Rama dari motornya bulan September lalu)

12/07/2007 10:27:00 PM

Di penghujung minggu, kecil kemungkinan untuk berbincang lagi denganmu. Kita memang jarang bertemu kan? Sebulan tak lebih dari hitungan jari. Aku bahkan kehilangan nomor hp-mu, terhapus bersama terhapusnya sistem komputerku. Ah, teman macam apa aku ini. Tapi, aku tak sanggup menunda waktu hingga awal pekan untuk terpaku, sementara kau ingin ditelan bumi.

Ada suatu kala kita terpukau, pada suatu keajaiban hidup bernama cinta.

Tentang sorot dan getar tak terencana yang sama mulai dari detik pertemuan itu.
Tentang kerinduan terpendam, mengalir, mengiringi waktu semenjak detik itu.
Tentang hari-hari sunyi yang dilewatkan berdua karena hanya perlu diam untuk mengerti semua.
Tentang bulir air mata, bersitan ingatan, bisikan kebimbangan satu orang yang berpendar menumbuhkan asmara di hati yang lain.
Tentang tubuh yang merasa kau adalah aku dan aku adalah kau, laksana rusuknya Ibu Hawa dan Bapak Adam.
Tentang inspirasi tiada henti dari bait-bait puisi merdu di diary.

Jangan menyerah teman. Aku masih ingin mendengar cerita episode dua, tiga dan seterusnya. Aku masih ingin tergetar dan terharu mendengar kedalaman cintamu.
Kita menyimpan harapan pada-Nya. Tariklah kata-kata ketaksanggupanmu.

Jika aku berhak memberi saran, segera jemputlah taqdirmu.
Jika cinta layak diperjuangkan, tentu Dia takkan membuatmu diam.
Jika akhirnya kau hanya diam, cinta akhirnya bukan apa-apa.
Atau pada suatu masa di masa depan, masih ada jalan yang diridhai-Nya.

Pada masa penentuan,
Saat pikiran terasa hilang dari raga
Tatkala prasangka dunia sekeliling menahan maksud kita
Lepaskanlah semua cinta dan benci dari hatimu dan berpasrah pada-Nya.

Aku tak perlu menasehati banyak, kau lebih mengerti dari aku kan??
Masih banyak waktu untuk tetap membisikkan doa-doa di temaram malam dan mendungnya siang. Sampai pada satu titik, itulah jalan pilihanmu.

Menanti
Kepingan hati
Mencari
Patahan tulang rusuk
Menunggu
Jalan taqdir yang seiring

(my favourite poem)