1/29/2009 04:46:00 AM



Kabut Kaki Langit memang menghalangi pandangan
Tak perlu protes, panas matahari akan menguapkan dispersi air


Rintik hujan Desember membasahi tanah saat pagi, tengah hari ataupun malam
Tak mengapa, karena ritmenya akan menyuburkan bumi


Tak perlu menyangka kabut dan rintik hujan seolah memuramkan suasana
Karena hari langit biru cerah jadi kejutan menyegarkan


Ya, ya, aku tak perlu protes pada siklus hidup yang berjalan natural. Perputaran alam membuat perasaan lebih peka dalam merasakan. Aku sempat pilu saat mesti berjalan bersama bayangan, berbincang sendirian, dan memandang asing sosokku saat berkaca. Sekarang, kudapat riang karena mengurai kata dengan sahabat-sahabat yang hilang, interaksi dengan kawan-kawan baru, diskusi panjang lebar dalam tentang satu buah pikiran, dan mendengar kembali suara khasmu. Sungguh, tersingkirkanlah Laut Jawa, Samudera Hindia, atau Samudera Pasifik sebagai pemisah daratan, pun egoisme dan ketakutan sebagai benteng dari dalam. Rasanya, aku berteriak kegirangan, Oh hidupku menjadi hidup kembali.

Syukurlah, memang semua tidak pernah akan kembali seperti semula. Tapi, untuk saat ini tetap menyenangkan bisa kembali dipertemukan dengan gairah semangat orang-orang di lingkaran terdalam diriku. Kehangatannya bisa mencegah necrosis hati setelah beberapa lama tenggelam dalam kebekuan.

I miss u too.....

1/25/2009 08:52:00 PM



Sedikit berkaitan dengan postingan sebelumnya.


Saya mengajukan pertanyaan untuk diri saya sendiri. Sebagai apoteker, akan bergunakah saya jika dikirimkan ke desa pedalaman nun jauh, atau di medan perang, atau pada situasi darurat?

Hal itu terpikir jauh di dalam benak saya, mungkin karena hal-hal berikut ini:
- Membaca buku Trio Detektif dan Lima sekawan, menginisiasi jiwa petualangan gitu loh.
- Membaca Novel tentang perjuangan saat Bandung Lautan Api, poho judulna.
- Menonton film seri Dokter Kartika. Itu loh film tahun 80-an yang ditayangkan di TVRI dan dibintangi Dewi Yul dan Dwi Yan.
- Membaca kisah Butet Manurung.
- Menonton Eagles Award Metro TV.
- Menontong film Saving Private Ryan.
- Mendengar cerita Teh Icha dan Teh Nana (kakak kelas saya Fa'99) sebagai relawan setelah terjadi gempa besar Aceh tahun 2004.
- Mendengar cerita dokter Zulaehah, dokter keluarga saya yang dua bulan berada di Papua.
- Melihat Konflik Israel-Palestina.

Saya iri sama teman-teman dokter iri karena kantor lebih suka memberikan bonus dan fasilitas wah pada dokter yang meresepkan obat kami dibandingkan pada karyawannya. "Sedikit" jiwa petualang saya iri karena teman-teman dokter pasti tetap mempunyai porsi dan sangat berguna pada kondisi-kondisi darurat dibandingkan profesi saya sekarang apoteker. Contohnya, di daerah pedalaman yang tidak ada fasilitas kesehatannya, dokter bisa mendiagnosis, menginjeksi, memberikan obat. FYI, jika tidak ada apotek di sekitarnya, dokter diperkenankan dispensing/memberikan obat. Kalau di tempat yang ada apotek dalam jarak yang wajar, dokter dispensing tidak boleh dispensing.
Nah, apoteker gak mungkin bekerja tanpa dokter di pedalaman. Apoteker bisa membantu memberikan saran medis seputar penyakit ringan dalam rangka pengobatan mandiri (self medication) atau dalam penggunaan obat-obat bebas dan alat kesehatan. Tapi, kalau ada serangan jantung, tumor jinak, persalinan... Yah, gak mungkin toh. Atau misal pada lokasi konflik dan perang. Dokter mempunyai kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan pertolongan pertama seperti CPR, operasi, injeksi morfin. Apoteker ngapain ya? Apoteker mungkin berguna untuk mengelola persediaan obat. Tapi saat genting, informasi obat tak terlalu dibutuhkan.

Begitu uneg-uneg ini saya ceritakan ke Defa, dia sampai pada kesimpulan memang porsinya apoteker itu pada saat kondisi sudah kondusif. (Di situasi damai di Indonesia aja belum dirasakan manfaatnya secara langsung di apotek)
Ho oh, emang. Kemudian aku nanya, "Kuat ga ya aku bekerja di daerah konflik gitu (dengan tensi tinggi dan resiko kematian)?"
Defa jawab, "Pada kondisi seperti itu pasti daya survival kita muncul."
Who knows ya?

Sudah berhenti berkhayal dulu. Hal yang lebih penting adalah mencintai pekerjaanku dan berbuat yang terbaik untuk owner masyarakat.

1/18/2009 11:33:00 AM



Saya memantau perjalanan dokter-dokter ini lewat : http://www.mer-c.org/
Mereka sudah bisa masuk Gaza sekarang.. Semoga moslem-moslem yang terluka di sana bisa ditolong lewat mereka..

Kita? Selain Doa, Apa?

Ikut menyebarkan:

Dukung Misi Kemanusiaan MER-C ke Palestina
Salurkan bantuan untuk rakyat Palestina ke:
BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773
(a.n. Medical Emergency Rescue Committee)
BMI cab. Arthaloka: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)
SMS Donasi: ketik MERC PEDULI kirim ke 7505

1/06/2009 09:23:00 PM

Akhir November tahun lalu saya jalan-jalan bersama Mahanagari ke Gunung Padang Ciwidey. Bukan bener-bener gunung siy, tapi kita jalan jauh ke atas, tinggi. Ini pose bahagia di puncak.



Saya belum pernah naik gunung yang sebenarnya, ya sebutlah Gunung Gede, Ciremai, atau Manglayang. Saya membayangkan mungkin itulah kenikmatan seorang pendaki gunung, pecinta target-target menuju level tertinggi. Walaupun bukan gunung yang sebenarnya, saya suka berada di puncak situ, diam saja memandang sekeliling, menghitung bentangan gunung, memincingkan mata karena disorot matahari langsung, nampak kecil di tengah alam, dan bernafas puas.

Menuju puncak tuh yang ada jalanan menanjak terus, di tengah jalan berpikir untuk berhenti dan ingin berjalan pulang. Itulah tantangannya naek gunung kali ya...
Satu hal yang saya sebalkan saat di Gunung Padang adalah sesajen yang berarti dua hal kemusyrikan dan bikin kotor. Hah, ada sesajen?? Bukan ada, tapi banyak.

Tulisan lengkap saya tentang perjalanan ke Gunung Padang Ciwidey dimuat di blog Mahanagari. Jujur, sungguh menarik untuk menelaah secara komprehensif sebuah kawasan wisata dari segi geografi, sejarah, dan budaya lokal. Silakan baca tulisan saya dan ulu di link berikut ini:

http://mahanagari.multiply.com/journal/item/151/Menapaki_Situs_Magalitikum_Gunung_Padang_di_Ciwidey

Ada juga foto-foto kami di postingan Mahanagari yang ini.
http://mahanagari.multiply.com/photos/album/46/Foto-foto_Gunung_Padang_episode_Satu
http://mahanagari.multiply.com/photos/album/47/Foto-foto_Gunung_Padang_episode_Dua

Senangnya, karena saya menulis untuk Mahanagari saya mendapat kenang-kenangan dari Mahanagari. Paling suka ama CD tentang Bandung dan Mahanagari, ada saya juga di situ siy, lagi jalan-jalan di Situ Lembang.



List... rewardnya lebih gede daripada serambi sehat .


Ps: Phewew.. poseku senyum lebar mulu ya? Setelah foto-foto ini aku ganti gaya.. liat aja pas chatting

1/01/2009 08:06:00 AM

Disclaimer: Saya sedang tidak suka dengan pertanyaan KAPAN dan DENGAN SIAPA. Jadi kalau kedua kata itu muncul di benak Anda setelah fakta-fakta ini diungkap, gak usah nanya langsung . Karena jawabannya sama, Wallahu 'alam, dan doakan yang terbaik saja.


Sambil mengerjakan PR dari Umi Rina, sekaligus bikin artikel about me untuk mengakali lebar kolom template baru yang terbatas.

10 Facts About Swestika Swandari.


1. Perempuan, anak perempuan dan kakak perempuan satu-satunya. Semoga menjadi perempuan sholihah, anak sholihah, dan kakak yang baik. Ingin menjadi ibu dan istri sholihah.

2. Lahir di Bandung 25 tahun lalu, gede di Bandung, sekolah dan kuliah di Bandung, kerja di Bandung. Gak bosen apa? Ya engga lah.. namanya juga kampung halaman. Tapi, Bandung adalah kota yang dilingkung ku gunung dan mendung, karena itulah saya bermimpi sesekali ingin memegang salju, berjalan-jalan di pantai, menikmati udara subtropis dan melihat langit biru setiap harinya.

3. Sekarang bekerja sebagai Export Regulatory Affairs Staff di salah satu Pabrik Farmasi. Saya berencana untuk bekerja di apotek dalam waktu dekat. Pengen sekolah lagi (mudah-mudahan dapet beasiswa), jadi praktisi di bidang Community pharmacy, have my own pharmacy. Selain itu juga sedang meniti karir untuk menjadi penulis dan melahirkan sebuah situs bersama teman-teman yang hebat. I need to be more consistent and persistent..

4. Senang memasak, tapi sekarang lagi baking blue. Akhir-akhir ini, cuma bikin kue yang kalaupun gagal di appearance tapi biasanya sukses di rasa dan akhirnya habis. Karya terakhir saya adalah puding mangga dan pancake pisang keju, dibuat minggu lalu.

5. Karena point nomor dua alias saya teh mojang priangan, urang sunda walaupun tidak asli, warga Bandung, makanan favorit saya adalah lotek, karedok, gado-gado, pecel, salad, dan lalapan. Eh, tapi saya pemakan segala loh. Jadi saya juga senang coklat, es krim, kebab, sate, steak, iga bakar, bakso, donat, batagor, cheese cake roti, seafood, pizza, spagheti, martabak, ayam goreng dan semua yang enak.. :D

6. Saya mellow, lihat saja puisi-puisi yang saya hasilkan di sini. Puisi favorit saya judulnya Arti Kamu. It WAS very deep emotion, although i hadn't met si kamu in real world.

7. I used to be stuborn and talkative. Dua sifat yang biasanya tidak disukai laki-laki dalam figur calon istrinya. Jadi, kemudian saya berubah. Silakan tebak ini pernyataan polos, sinis atau bohong.

8. Percaya ga kalau umumnya sahabat saya adalah laki-laki berhuruf depan F. Sebutlah Ferry Malvinas, Fauzan Adi Wibowo, Fauzan Arafat, Firdaus Sitepu, Deni Fajar. Atau ada huruf F nya, seperti A.M. Arifin atau M. Lutfi (eh, ngrasa jadi sobat gw gak ya? ). Yang gak kesebut jangan pundung ya.. saya kan cuma memperlihatkan fenomena F.

9. Punya account Friendster, Facebook, Multiply, Flickr, Plurk, Wordpress yang masih aktif saya utak-atik. Kalau FS dan FB kan jejaring sosial, ya buat ketemu temen lama dan temen baru. Di Multiply masih suka nambahin foto plus buat belanja online, belanja di multiply aseek sih.. hehe. WP ceritanya untuk khusus postingan tentang farmasi. Trus Flickr buat nyimpen foto. Saya nge-plurk kadang-kadang, pengen dapet karma yang banyak, tapi hiks selalu balik ke 0. Oya, sebenernya juga account di Dagdigdug, Twitter, Tagged, Hi5, Goodreads, Myspace dll yang mungkin saya lupa untuk meng-update.

10. Saya romantis, suka film, lagu, puisi, novel romantis. Film favorit saya adalah Before Sunset dan Before Sunrise. Saya sebel kalau ada yang protes selera film saya yang itu, selera kan boleh beda.. Karena selalu membayangkan kisah romantislah -mungkin- menjadi sebab saya pernah merasakan cinta pada pandangan pertama, cinta pada sahabat, cinta jarak jauh, cinta dunia maya, cinta pada yang lebih tua dan lebih muda. Huehehe.. Walaupun sekarang saya menyadari, itu semua belum bisa dikatakan cinta...

Okeh, asiik sekarang saya berhak mendapatkan ini dunk.

Jazakillahu khoiro Umi Rina....