10/19/2008 01:38:00 PM


November 2006


November 2008

Dua tahun cukup, untuk melihat banyak kemajuan. Perut-perut yang maju, karir maju, hidup terus maju menuju akhirnya kan?

*Fa '00 di alamanda

10/19/2008 01:37:00 PM

Ditendang
oleh kebersamaan
oleh kasih sayang
oleh pengakuan

Terhisap
dalam pusaran
kehampaan
kedataran
ketidakberartian

Tertarik
dalam aliran
Kehilangan
kesunyian
Kesendirian

Tercenung
dalam aura
kelembaman
kesinisan
penolakan

Menikmati keakuan
Dalam sisa-sisa hangatnya hati
Cukup aku...


*18 Oktober 2008

10/14/2008 05:55:00 AM

Kamu tiba-tiba mengirimkan email berisi mp3 lagu ini:

SIND3NTOSCA
KEPOMPONG LYRICS

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Bridge:
Kini kita berjalan melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Reff :
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan

Kata kamu, mantan pemain bass band itu (yang sekarang jadi one man show) temen kuliah kamu. Pada akhirnya aku bertanya retoris, "Kamu mengirimkan lagu ini sekaligus isinya?" Kamu jawab iya.

Ulat yang ini juga pengen jadi kupu-kupu. Mungkin lagi siap-siap hibernasi. Ulat ini ingin juga main-main ama ulat sahabatnya. Tapi, kali ini ulat ini has much more complicated situation.... Bahkan sampai gak berani ngomong langsung, harus lewat blog.

Tunggu aja ya....Ulat ini kan suka banget meracau, gak akan lama sampai seabreg cerita bisa dibagi. Jangan sampai muntah kekenyangan...

10/14/2008 05:51:00 AM

Y


Dari Lampung bawa keripik pisang coklat, dari Yogya bawa bakpia, dari Padang bawa keripik singkong balado nan pedes, dari Semarang dapet wingko, hmm dari Kutoarjo? Yah, standar lah lanting dan jenang yang belum dibawa ke kantor karena makanan lain masih menumpuk di kantor. Masih pada giung kalau kata orang sunda mah. Oleh-oleh lain? Berhubung perjalanan kali ini singkat banget. Tidak ada cerita khusus dari kampung. Karena dari tiga hari perjalanan mudik, dua hari untuk perjalanan bulak-balik dan satu hari doang full di kampung.

Mudik memang fenomenal, yang katanya hanya orang Indonesia saja yang berbondong-bondong mudik saat lebaran, gak ada di belahan dunia lain. Ada banyak alasan kenapa lebaran ingin mudik. Saya dan keluarga ngebela-belain karena satu kesempatan dalam setahun untuk berkumpul dengan keluarga besar yang alamat di KTPnya kebanyakan beda provinsi. Menguatkan ikatan keluarga yang longgar karena alasan tempat tinggal.

Saya bisa merasakan keinginan yang sama dari wajah-wajah yang saya liat di stasiun dan di kereta. Keinginan itu begitu kuat, hingga apapun dijabanin dah – kalau kata orang Betawi mah-. Sampai-sampai melupakan kenyamanan saat perjalanan. Kalau cuma keterlambatan kereta sejam dua jam bahkan untuk kereta seperti Lodaya itu bukan masalah besar. Gak tau kalau kereta Argo telat atau gak.

Tapi, tahu rasanya naik kereta ekonomi saat musim lebaran begini? Gak ada istilah nyaman, bisa dibilang tidak manusiawi. Yah, misal secara fisiologis manusia kan perlu pipis sebut saja 6 jam sekali. Bayangkan dua puluh empat jam lebih menggunakan kereta Kahuripan Bandung-Kediri tanpa WC, karena kalau lebaran begini WC kereta ekonomi biasanya dialasi kardus, dijadikan tempat berdiri oleh penumpang. Coba juga bayangkan bau pesing, keringat, bau ketek, rokok, minyak wangi aroma melati, asam klorida dari chymus orang yang muntah, bau enam rupa itu bersatu. Untuk mendapatkan tempat duduk harus berlomba dari sejak kereta datang. Semua kursi penuh, bukan 7-5 ky angkot di Bandung sih, tapi kursi dua orang bisa untuk tiga orang. Koridor penuh orang berdiri dan duduk beralas koran. Kalau liat di foto, ada kereta hijau. Itu kereta barang yang dijadikan kereta tambahan. Tidak ada tempat duduk, semua orang lesehan.

Asumsi saya, kebanyakan temen-temen yang baca mungkin belum pernah merasakan ini. Mungkin hanya lihat di tv, ada orang loncat ke jendela kereta ekonomi yang bolong demi bisa masuk. Itu realitas yang terjadi saudara-saudara. Orang berebut bisa diangkut kereta itu karena tempat duduk hanya 106 per gerbong dengan kapasitas penumpang unlimited, maksudnya sampai tak bisa ada pergerakan dan perbandingan harganya 1:10 dengan kereta non ekonomi.

Karena berbagai alasan, saya sekeluarga pulang kembali ke Bandung dengan kereta ekonomi Sawunggalih Selatan Bandung-Kutoarjo selama sepuluh jam. Mengalami sendiri apa rasanya jadi manusia urban yang berebut tempat untuk pulang…


*Telat banget ya..

10/01/2008 04:18:00 AM




Happy Eid Mubarak!
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum.


*Giliran puasa internet