Oleh-oleh Mudik*

Y


Dari Lampung bawa keripik pisang coklat, dari Yogya bawa bakpia, dari Padang bawa keripik singkong balado nan pedes, dari Semarang dapet wingko, hmm dari Kutoarjo? Yah, standar lah lanting dan jenang yang belum dibawa ke kantor karena makanan lain masih menumpuk di kantor. Masih pada giung kalau kata orang sunda mah. Oleh-oleh lain? Berhubung perjalanan kali ini singkat banget. Tidak ada cerita khusus dari kampung. Karena dari tiga hari perjalanan mudik, dua hari untuk perjalanan bulak-balik dan satu hari doang full di kampung.

Mudik memang fenomenal, yang katanya hanya orang Indonesia saja yang berbondong-bondong mudik saat lebaran, gak ada di belahan dunia lain. Ada banyak alasan kenapa lebaran ingin mudik. Saya dan keluarga ngebela-belain karena satu kesempatan dalam setahun untuk berkumpul dengan keluarga besar yang alamat di KTPnya kebanyakan beda provinsi. Menguatkan ikatan keluarga yang longgar karena alasan tempat tinggal.

Saya bisa merasakan keinginan yang sama dari wajah-wajah yang saya liat di stasiun dan di kereta. Keinginan itu begitu kuat, hingga apapun dijabanin dah – kalau kata orang Betawi mah-. Sampai-sampai melupakan kenyamanan saat perjalanan. Kalau cuma keterlambatan kereta sejam dua jam bahkan untuk kereta seperti Lodaya itu bukan masalah besar. Gak tau kalau kereta Argo telat atau gak.

Tapi, tahu rasanya naik kereta ekonomi saat musim lebaran begini? Gak ada istilah nyaman, bisa dibilang tidak manusiawi. Yah, misal secara fisiologis manusia kan perlu pipis sebut saja 6 jam sekali. Bayangkan dua puluh empat jam lebih menggunakan kereta Kahuripan Bandung-Kediri tanpa WC, karena kalau lebaran begini WC kereta ekonomi biasanya dialasi kardus, dijadikan tempat berdiri oleh penumpang. Coba juga bayangkan bau pesing, keringat, bau ketek, rokok, minyak wangi aroma melati, asam klorida dari chymus orang yang muntah, bau enam rupa itu bersatu. Untuk mendapatkan tempat duduk harus berlomba dari sejak kereta datang. Semua kursi penuh, bukan 7-5 ky angkot di Bandung sih, tapi kursi dua orang bisa untuk tiga orang. Koridor penuh orang berdiri dan duduk beralas koran. Kalau liat di foto, ada kereta hijau. Itu kereta barang yang dijadikan kereta tambahan. Tidak ada tempat duduk, semua orang lesehan.

Asumsi saya, kebanyakan temen-temen yang baca mungkin belum pernah merasakan ini. Mungkin hanya lihat di tv, ada orang loncat ke jendela kereta ekonomi yang bolong demi bisa masuk. Itu realitas yang terjadi saudara-saudara. Orang berebut bisa diangkut kereta itu karena tempat duduk hanya 106 per gerbong dengan kapasitas penumpang unlimited, maksudnya sampai tak bisa ada pergerakan dan perbandingan harganya 1:10 dengan kereta non ekonomi.

Karena berbagai alasan, saya sekeluarga pulang kembali ke Bandung dengan kereta ekonomi Sawunggalih Selatan Bandung-Kutoarjo selama sepuluh jam. Mengalami sendiri apa rasanya jadi manusia urban yang berebut tempat untuk pulang…


*Telat banget ya..

Comments

Popular Posts